oleh

13 Oknum Brimob Diproses di Tempat Rahasia

MAMUJU – 13 Oknum anggota Brimob Polda Sulbar dinilai melanggar disiplin kepolisian, terkait keributan di kawasan Wisata Salu Pajaan, Kecamatan Binuang, Polewali Mandar.

Pascainsiden Salu Pajaan, 41 personel Brimob Sulbar yang bertugas di Polman, dipanggil ke Mamuju untuk diperiksa.

Karo Ops Polda Sulbar, Kombes Pol Mochammad Noor Subchan mengatakan, 41 personel itu sudah termasuk Komandan Kompi (Danki). Mereka telah dimintai keterangan selama dua hingga tiga jam.

Kesimpulannya, lanjut Kombes Pol Subchan, 13 oknum diduga terlibat termasuk mengeluarkan tembakan.

Mereka kemudian ditempatkan di ruang khusus. Ruangan ini hanya diketahui Komandan Satuan (Dansat) Brimob Polda Sulbar. Sisanya dipulangkan, kembali ke Polman.

“Mulanya yang terlibat adalah oknum berinisial ‘O’ yang juga sebagai Danki dan 12 anak buahnya diduga mengeluarkan tembakan. Tempatnya hanya Dansat yang tahu, di mana ruang khusus tersebut,” kata Kombes Subchan, di Mapolda Sulbar, Rabu 22 Januari.

Mereka diduga melanggar pasal 5 Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 2 Tahun 2003 tentang Peraturan Disiplin Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia.

“Aturan disiplin yang bunyinya melakukan hal-hal yang dapat menurunkan kehormatan dan martabat negara, pemerintah atau kepolisian negara republik Indonesia,” ujar Kombes Subchan.

Menurutnya, para oknum tersebut bakal bakal diperiksa 1×24 jam di temapt khusus. Ia mengaku, tak mengetahui berapa lama pemeriksaan. Pemeriksaan untuk pengembangan dan pendalaman mengenai motifnya.

“Ini soal masalah disiplin dulu. Kami lihat perkembangannya, apa masuk masalah kode etik atau tidak. Untuk pendalamannya, kami akan periksa beberapa saksi termasuk warga di sana yang terlibat,” bebernya.

UNTUK EVAKUASI

Kepala Bidang Propam Polda Sulbar, AKBP Mohammad Rivai Arvan menegaskan, semua oknum sudah diproses. Ditempatkan di ruang khusus. Semuanya 13 orang. Oknum yang mengeluarkan tembakan 12 orang. Sisanya sebagai pemicu dan pemberi perintah.

“Kemarin (Selasa 21 Januari, red), kami panggil 41 orang. 13 tinggal dan sisanya dipulangkan, tapi apakah yang dipulangkan, itu tetap mendapat pembinaan saya tidak tahu. Itu bergantung Dansatnya,” beber AKBP Arvan.

Dijelaskan, alasan mereka datang ke lokasi kejadian untuk mengevakuasi Dankinya yang ditahan di dalam dan tak diizinkan keluar. Selain itu, Dankinya dikeroyok warga, tetapi itu terjadi karena Danki bereaksi duluan terhadap warga.

“Walaupun sudah damai tetapi perbuatan melanggar tetap kita tindak secara internal. Pasal yang dilanggarnya itu melakukan tindakan yang menurunkan martabat kepolisian,” jelas mantan Kapolresta Mamuju, itu.

SANKSI

Soal sanksi, AKBP Arvan menjelaskan, bergantung keputusan Dansat Brimob Polda Sulbar. Hukumannya bisa ditempatkan di tempat khusus selama 14 hingga 20 hari dan ini sudah mereka jalankan.

Selain itu, lanjutnya, sanksinya juga bisa berupa demosi atau ditarik dari Polman dan ditempatkan di daerah lain. Bisa juga ditarik kesatuan itu.

“Bisa juga tidak ikut pendidikan selama enam bulan atau lebih. Tunjangan gaji juga ditunda selama satu periode. Kalau tempat khusus itu bergantung dari Dansatnya,” kata AKBP Arvan, menekankan.

Pihaknya tak bisa memutuskan jenis sanksi. Sebab, yang berhak adalah Dansat mereka. Propam hanya menelisik pelanggarann-pelanggarannya. Temuan kemudian diserahkan ke Dansat.

“Kapolda sudah jelas, meskipun berdamai tapi tak menggugurkan poreses internal,” jelasnya.

Mengenai SOP Brimob, AKBP Arvan menjelaskan, anggota Brimob tidak boleh turun tanpa perintah dari kapolres setempat.

Anggota, sambungnya, bisa turun jika ada perintah karena Kapolres di wilayah terkait.

“Kalau perintah dari kompinya langsung bisa saja turun. Tapi, tidak boleh bawa perlengkapan senjata. Makanya pelanggarannya disitu. Alasan mereka menembak, karena mereka terdesak. Itu tidak jadi masalah. Masalahnya dia turun tidak sesuai SOP,” pungkas AKBP Arvan. (m2/rul)

Komentar

News Feed